Gubernur Dedi Mulyadi Hapus PR Sekolah Mulai 2025: Anak-anak Diminta Fokus pada Kehidupan Nyata di Rumah
Koran Bogor- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali membuat gebrakan di dunia pendidikan, Dalam sebuah langkah progresif yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2025/2026, Dedi secara resmi mengumumkan bahwa pekerjaan rumah (PR) atau tugas-tugas sekolah yang biasa diberikan untuk dikerjakan di rumah akan dihapus dari sistem pendidikan di Jawa Barat.
“Kita ingin seluruh aktivitas pembelajaran bisa diselesaikan di sekolah. Targetnya adalah 80 hingga 100 persen proses belajar mengajar selesai di kelas, sehingga anak-anak tidak lagi terbebani ketika berada di rumah,” kata Dedi.
Rumah Bukan Sekolah Kedua, Tapi Tempat Tumbuhnya Karakter
Menurut Dedi, rumah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai kehidupan, bukan perpanjangan dari ruang kelas. Ia menilai bahwa membawa pulang tugas sekolah hanya membuat anak-anak kehilangan waktu berkualitas bersama keluarga serta kesempatan belajar dari kehidupan nyata di sekitar mereka.
Sebagai gantinya, Dedi mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas produktif di rumah yang justru bisa menjadi bagian dari proses belajar, seperti membantu orang tua mencuci piring, menyapu, menanam tanaman, bahkan merawat taman.
“Itu semua pekerjaan rumah yang memiliki nilai pendidikan. Guru bisa memberikan penilaian atas kegiatan seperti itu, misalnya dalam pelajaran PPKN, Agama, Ekonomi, bahkan Fisika dan Kimia,” ujarnya.

Baca Juga : Dedi Mulyadi Masih Jomblo? Ternyata Ini Alasannya yang Bikin Haru
Belajar dari Hidup, Bukan Hanya dari Buku
Dedi menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari bisa menjadi sumber pengetahuan yang kaya. Ia memberikan contoh, jika seorang siswa sedang mengepel lantai dan menemukan air kotor, maka siswa tersebut bisa menerapkan pengetahuan tentang water treatment untuk menyaring kembali air tersebut menggunakan bahan-bahan alami atau proses sederhana.
“Anak itu bisa belajar tentang mikroorganisme, tentang bahan kimia yang aman, dan itu semua bisa menjadi bentuk penerapan dari apa yang dia pelajari di kelas. Inilah pendidikan yang sesungguhnya—yang membangun kesadaran, pengalaman, dan keterampilan hidup,” tambahnya.
Dorong Kreativitas dan Kolaborasi di Luar Sekolah
Lebih jauh, Gubernur mendorong para siswa untuk berkarya di luar jam sekolah. Ia menyebutkan banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan.
Bahkan, ia mendorong pelajar untuk mulai menjajaki dunia kewirausahaan. Misalnya, membuat produk seperti motor listrik skala rumahan, atau mendirikan industri kecil bersama masyarakat sekitar.
Belajar Bertani dan Membangun Masa Depan
Bagi pelajar yang tertarik di bidang pertanian, Dedi menyarankan mereka untuk memanfaatkan waktu di sawah. Ia memberi contoh bagaimana siswa bisa belajar mengukur luas lahan, menghitung hasil panen, hingga memperkirakan keuntungan dalam satu musim tanam.
“Pembelajaran seperti ini akan jauh lebih membekas dalam ingatan karena menyentuh langsung kehidupan sehari-hari mereka,” kata mantan Bupati Purwakarta itu.
Pendidikan yang Menyentuh Hati dan Kehidupan
Gubernur menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan pengalaman hidup yang kuat.
“Saya percaya, orang sukses adalah mereka yang punya pengalaman hidup yang kaya. Dan pengalaman itu bukan dari PR, melainkan dari interaksi nyata dengan lingkungan dan keluarga,” tutupnya.






