Bogor – TPA Galuga di Kabupaten Bogor telah lama menjadi andalan pembuangan sampah dari wilayah Kota Bogor dan sekitarnya.
Di balik gunungan sampah itu, tersembunyi realitas pahit yang dialami oleh warga dan pemulung yang menggantungkan hidup di sekitar lokasi tersebut.
Bagi sebagian orang, Galuga hanyalah tempat sampah raksasa. Tapi bagi ribuan jiwa, Galuga adalah tempat mereka mencari nafkah — sekaligus mempertaruhkan nyawa.
Setiap hari, puluhan bahkan ratusan truk membawa sampah dari kota menuju Galuga, menumpuk berton-ton limbah rumah tangga dan industri.
Di antara bau busuk dan ancaman penyakit, para pemulung menyusuri gunungan sampah, mencari plastik, logam, dan barang bekas lain untuk dijual.
Mereka bekerja tanpa perlindungan yang layak, sering kali tanpa masker, tanpa sepatu, dan berhadapan langsung dengan sampah yang membusuk.
Baca Juga : Benda Diduga Granat Manggis Ditemukan Warga di Lahan Kosong Ciseeng Bogor
Risiko kecelakaan pun mengintai — longsor sampah, terinjak pecahan kaca, hingga paparan zat kimia berbahaya.
Namun, bagi mereka yang tak punya pilihan lain, tempat berbahaya ini justru menjadi satu-satunya sumber penghasilan.
Di sisi lain, warga di sekitar TPA Galuga juga menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan mereka.
Polusi udara, pencemaran air, dan bau menyengat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Anak-anak di sekitar Galuga tumbuh dengan risiko tinggi terkena ISPA, diare, dan gangguan kulit akibat lingkungan yang tercemar.
Pemerintah daerah telah beberapa kali mengunjungi lokasi, namun permasalahan di Galuga tak kunjung tuntas.
Masalah TPA bukan hanya soal teknis pengelolaan sampah, tapi juga soal bagaimana sebuah sistem menghargai kehidupan manusia.
Ketika pengelolaan TPA tidak ramah lingkungan ini
Aktivitas di Galuga mencerminkan kontradiksi: satu sisi adalah gaya hidup konsumtif kota, sisi lain adalah penderitaan masyarakat pinggiran.
Kota menghasilkan sampah setiap hari, tapi lupa bahwa ada manusia yang harus berurusan dengan sampah itu secara langsung.
Sebagian dari mereka sudah bekerja belasan tahun, namun tetap hidup dalam garis kemiskinan dan tanpa akses ke jaminan sosial.






