Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Warga Singapura Ramai-Ramai Jalani Operasi Plastik, Banyak yang Gagal Sampai Buta

Skintific

bogor-Warga Singapura Beberapa bulan terakhir, dunia maya digemparkan oleh tren mengejutkan dari Singapura: warga dari berbagai kalangan ramai-ramai menjalani operasi plastik. Tapi bukan hasil indah yang mereka dapatkan—melainkan deretan kegagalan medis yang bikin ngeri.

Singapura Larang Operasi Plastik buat Remaja : Okezone Health

Skintific

 

Baca Juga : Pemkab Bogor Bakal Bongkar Bangunan Liar di Citeureup Pekan Depan

Fenomena ini bermula dari maraknya iklan di media sosial yang menawarkan operasi plastik dengan harga miring dan hasil “instan”, lengkap dengan testimoni “selebgram” yang tampil kinclong.

Banyak warga, terutama kaum muda, tergoda untuk mencoba. Mereka percaya diri akan keluar dari klinik dengan hidung lebih mancung, dagu lebih tirus, atau kelopak mata yang “korean style”.

Namun kenyataannya jauh dari ekspektasi. Dari laporan media lokal, puluhan orang mengalami komplikasi serius, bahkan ada yang sampai kehilangan penglihatan permanen.

Salah satu korban adalah Mei Lin (nama samaran), seorang mahasiswi 23 tahun. Ia melakukan prosedur suntik filler di bawah mata. “Dalam dua jam, penglihatan saya buram. Keesokan harinya, saya buta sebelah,” katanya lirih.

Ternyata, Dokter menyebut kasus ini sebagai vascular occlusion, kondisi medis darurat yang bisa terjadi dalam hitungan detik.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Singapura (MOH), terjadi lonjakan 35% pengaduan terkait komplikasi operasi plastik dalam satu tahun terakhir.

Ironisnya, sebagian besar klinik yang menawarkan jasa ini tidak memiliki izin praktik medis. Beberapa bahkan beroperasi dari apartemen dan rumah sewaan.

Tak sedikit yang merasa tertipu karena harga murah dan promosi “limited offer” membuat mereka mengambil keputusan tergesa-gesa.

Ada pula klinik luar negeri, khususnya dari negara tetangga, yang mengiklankan layanan ke Singapura lalu melakukan operasi kilat di hotel atau apartemen sewaan.

Ketika pasien mengalami komplikasi, mereka pun tak tahu harus mengadu ke mana.

Seorang influencer yang sempat menjalani operasi hidung mengaku menyesal. “Hidungku malah miring dan sakit terus. Aku kehilangan kepercayaan diri,” katanya.

Ia mengakui, tekanan media sosial membuatnya ingin tampil sempurna. “Standar kecantikan makin tinggi, dan kita terus merasa harus memperbaiki diri.”

Padahal, tak semua orang tahu bahwa prosedur estetika punya risiko besar. Bahkan, prosedur sederhana seperti suntik filler bisa berakibat fatal jika mengenai saraf atau pembuluh darah.

Banyak kasus yang tidak langsung terlihat. Beberapa pasien merasa baik-baik saja, lalu sebulan kemudian timbul infeksi parah atau pembengkakan permanen.

Sayangnya, belum semua klinik resmi terbuka soal risiko ini. Beberapa justru menyederhanakan proses dan mengklaim bahwa “semua aman selama tidak alergi”.

Skintific