Bogor – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bogor sejak sore hingga malam hari menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir.
Banjir mulai terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, setelah hujan tak kunjung reda selama lebih dari empat jam.
Wilayah yang terdampak paling parah meliputi Kecamatan Cileungsi, Gunung Putri, Citeureup, dan sebagian wilayah Bojonggede.
Tinggi air dilaporkan bervariasi, mulai dari 30 cm hingga mencapai 1,5 meter di beberapa titik pemukiman warga.
Warga yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi ke masjid, pos ronda, hingga rumah tetangga yang tidak terkena dampak.
Beberapa jalan protokol lumpuh total akibat genangan air, membuat arus lalu lintas tersendat hingga larut malam.
Petugas BPBD Kabupaten Bogor langsung diterjunkan ke lokasi-lokasi banjir untuk melakukan evakuasi.
Kepala BPBD Bogor menyebutkan bahwa curah hujan yang tinggi disertai sistem drainase buruk menjadi penyebab utama banjir.

Baca Juga : Wamenko Polkam Kunjungi Sekolah Rakyat di Bogor, Dorong Pendidikan Karakter
Selain itu, aliran sungai kecil yang meluap juga memperburuk kondisi di beberapa perumahan padat penduduk.
Salah satu warga, Ibu Sari, mengatakan bahwa banjir kali ini adalah yang terparah dalam tiga tahun terakhir.
Anak-anak dan lansia menjadi prioritas utama dalam evakuasi karena risiko kesehatan yang lebih tinggi.
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor sudah mulai mendirikan posko kesehatan di sejumlah titik pengungsian.
Banjir juga menyebabkan pemadaman listrik di beberapa kawasan demi menghindari risiko korsleting.
PLN ini bersama petugas pemadam kebakaran turut bersiaga untuk menangani potensi bahaya listrik.
Sejumlah guru dan kepala sekolah telah mengimbau siswa untuk belajar dari rumah melalui grup WhatsApp kelas.
Banjir juga mengganggu kegiatan ekonomi warga, terutama pedagang kecil yang harus menghentikan aktivitasnya.
Di pasar iniĀ tradisional, banyak lapak yang terendam air dan menyebabkan kerugian materi bagi para pedagang.
Warga berharap ada bantuan logistik dan keuangan dari pemerintah daerah untuk meringankan beban mereka.
Sejumlah organisasi relawan, termasuk PMI dan Tagana, mulai menyalurkan makanan siap ini






