Bogor – Menginap di Puncak identik dengan udara dingin yang menggigit, kabut tebal di pagi hari, dan embun yang menempel di kaca jendela vila. Tempat ini menjadi destinasi favorit warga Jakarta yang ingin melarikan diri dari panasnya ibu kota. Namun kini, pertanyaannya mulai muncul: apakah Puncak masih sedingin dulu?
Beberapa wisatawan yang baru-baru ini menginap di kawasan Puncak, Bogor, mulai memperhatikan perubahan suhu yang cukup signifikan. “Kalau dulu, malam-malam di sini bisa bikin tangan membeku. Sekarang, udaranya masih sejuk, tapi enggak sedingin dulu,” ujar Rini, wisatawan asal Tangerang yang rutin berlibur ke Puncak setiap tahun.
Data dari BMKG Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor menunjukkan bahwa suhu rata-rata di kawasan Puncak kini berkisar antara 17 hingga 22 derajat Celsius pada malam hari. Padahal, beberapa dekade lalu, suhu bisa turun hingga 13 derajat Celsius, terutama saat musim kemarau.

Baca Juga : Kala Mojang Lodaya Turun Gunung Patroli Atur Lalu Lintas di CFD Bogor
Perubahan ini bukan tanpa sebab. Kepala BMKG Bogor, Rizky Agustian, menjelaskan bahwa faktor urbanisasi dan perubahan tata guna lahan menjadi penyebab utama meningkatnya suhu di kawasan pegunungan tersebut. “Dulu, Puncak masih didominasi hutan dan kebun teh. Sekarang, banyak vila, hotel, dan kawasan komersial yang menggantikan vegetasi alami,” ujarnya.
Meskipun begitu, bukan berarti pesona Puncak memudar. Justru, daya tariknya kini lebih beragam. Selain hawa sejuk yang tetap terasa segar, kawasan ini menawarkan pengalaman menginap dengan panorama alam yang menakjubkan. Dari Cisarua hingga Cipanas, deretan penginapan dengan konsep alam modern bermunculan — mulai dari glamping mewah, vila dengan pemandangan Gunung Gede, hingga homestay bernuansa pedesaan.
Bagi wisatawan yang mencari udara paling dingin di kawasan ini, Puncak Pass dan Telaga Warna masih menjadi titik favorit. Di pagi buta, suhu bisa mencapai 16 derajat Celsius, ditambah kabut yang menari di antara pepohonan pinus. “Kalau datang jam lima pagi, masih terasa dinginnya menusuk tulang. Tapi begitu matahari naik, udaranya langsung hangat,” kata Dedi, penjaga warung di sekitar kawasan Puncak Pass.
Selain perubahan suhu, wisatawan kini juga dimanjakan dengan berbagai aktivitas alam yang ramah keluarga. Ada wisata petik strawberry, menunggang kuda di perkebunan teh, hingga menikmati kopi di kafe-kafe dengan view lembah dan kabut. “Sekarang Puncak bukan cuma tempat untuk tidur di vila dan makan jagung bakar, tapi juga destinasi gaya hidup,” ujar Rizka, pengunjung asal Jakarta Selatan.
Namun, sejumlah warga berharap pembangunan di kawasan ini tetap memperhatikan keseimbangan alam. “Kalau semua lahan berubah jadi vila, nanti udara sejuknya hilang.
Pemerintah daerah pun mulai memperketat pengawasan terhadap izin pembangunan baru.
Menariknya, meski suhu tidak sedingin dulu, banyak wisatawan justru menganggap kondisi sekarang lebih nyaman. “Dulu kalau malam terlalu dingin sampai susah tidur. Sekarang cukup pakai selimut tipis, pas banget buat liburan,” kata Rini sambil tersenyum.
Puncak mungkin telah berubah — tidak lagi membekukan tangan seperti masa lalu — tapi pesonanya tetap abadi. Kabut pagi yang lembut, udara segar, dan lanskap hijau yang menenangkan masih jadi alasan mengapa ribuan orang datang ke sini setiap akhir pekan.
Jadi, kalau kamu berencana menginap di Puncak dalam waktu dekat, jangan lupa membawa jaket tipis. Udara mungkin tak sedingin dulu, tapi kesejukan dan ketenangan khas pegunungan masih menyapa setiap pengunjung dengan cara yang sama: tenang, lembut, dan menenangkan hati.






